Mengenai Saya

Foto saya
Perempuan kelahiran Kota Malang yang terus belajar, mencoba, lalu berkreasi
Hai! Selamat datang dan selamat menikmati sajian tulisan-tulisan yang semoga bermanfaat ini. Kotak saran dan kritik sangat terbuka, jadi jangan sungkan-sungkan untuk memberikan komentar. Jangan lupa menuliskan sumbernya ya jika mau merujuk tulisan-tulisan di blog ini. Have a nice surf :)

Senin, 22 April 2013

DEMOKRASI IDEAL ALA AGUS R. SARJONO DALAM SAJAK “DEMOKRASI DUNIA KETIGA”


Oleh: Silka Yuanti Draditaswari
Mahasiswa Sastra Indonesia
Universitas Negeri Malang

 
Kalian harus demokratis.
Baik, tapi jauhkan tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku            
bukankah engkau tahu.
Tutup mulut!
Soal tinjuku mau kukepalkan,                                                                        
kusimpan di saku atau kutonjokkan ke hidungmu,
tentu sepenuhnya terserah padaku.
Pokoknya kamu harus demokratis.
Lagi pula kita tidak sedang bicara soal aku,
tapi soal kamu yaitu kamu harus demokratis!                                                
Tentu saja
saya setuju, bukankah selama ini saya telah mencoba.
Sudahlah!
Kami tak mau dengar apa alasannya
Tak perlu berkilah dan buang waktu.                                                            
Aku perintahkan kamu untuk demokratis, habis perkara!
Ingat gerombolan demokrasi yang kami galang akan melindasmu habis.    
Jadi jangan macam-macam
Yang penting kamu harus demokratis.
Awas kalau tidak!                                                                                           

            Puisi di atas merupakan salah satu puisi Agus R. Sarjono yang dimuat di Tangan Besi, Antologi Puisi Reformasi. Tangan Besi, Antologi Puisi Reformasi merupakan antologi puisi dari beberapa pengarang seperti WS. Rendra, Acep Zamzam Noor, Ahda Imran, Beni R. Budiman, Cecep Syamsul Hari, Diro Aritonang, Eriyandi Budiman, Juniarso Ridwan, Muhammad Ridlo ‘Eisy, Nenden Lilis A., Sonni Farid Maulana, Yessi Anwar, dan Agus R. Sarjono (Rendra, 2005). Demokrasi Dunia Ketiga merupakan puisi yang terlahir pada tahun 1998, dimana tahun tersebut alm. Bapak Soeharto masih menjabat menjadi Presiden RI. Puisi di atas adalah salah satu puisi yang blak-blakan, sesuai dengan gaya penulisan Agus R. Sarjono yang blak-blakan. Mengapa Agus R. Sarjono menulis puisi seperti tersebut? Semasa kuliahnya di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni IKIP Bandung, Agus R. Sarjono terlibat aktif dalam kelompok Diskusi Lingkar yang mendiskusikan berbagai isu sosial, politik, budaya, dan ekonomi pada masa Orde Baru (Wikipedia, 2011). Maka tidak heran jika sisi “pemberontak” dapat dilihat dari puisi Demokrasi Dunia Ketiga ini. Lihat saja Sajak Palsu, Di Sebuah Restoran Indonesia Juni 1998, Air Mata Hujan, dan lain sebagainya. Anda akan menemukan keliaran Agus dalam menyampaikan kritik sosialnya secara dramatis di baris ke baris. Bagaimana Agus menuliskan keliarannya itu dalam puisi Demokrasi Dunia Ketiga? Berikut akan diuraikan bagian per bagian dari puisi tersebut.
            Istilah demokrasi sendiri berasal dari kata demos yang artinya rakyat dan cratein yang berarti pemerintah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, demokrasi berarti pemerintahan yang seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perwantaraan wakilnya. Istilah dari rakyat, untuk rakyat merupakan istilah yang tidak asing lagi dalam dunia demokrasi. Istilah itu menunjukkan bahwa kekuasaan di tangan rakyat. Rakyat juga dapat mengungkapkan gagasan atau pandangan hidupnya untuk mendapatkan hak dan kewajiban yang sama dengan warga negara lain. Namun, apa yang dimaksud Agus R. Sarjono dalam frasa dunia ketiga itu sendiri? Jika dihubungkan dengan istilah politis demokrasi, maka frasa dunia ketiga berhubungan dengan istilah negara dunia ketiga atau negara-negara berkembang. Dalam Wikipedia (2012) dijelaskan bahwa negara dunia ketiga bukanlah negara industri atau yang maju dari segi teknologi. Indonesia merupakan salah satu negara yang masih berkembang. Begitu pula dengan penerapan demokrasinya. Agus R. Sarjono, sebagai aktivis sosial, budaya, dan ekonomi, menerawang penerapan demokrasi 1998 sebagai penerapan yang masih tidak karuan.
            Jika melihat latar belakang masalahnya, maka puisi ini berisi kritikan dan sindiran terhadap penerapan demokrasi di pemerintahan Indonesia tahun 1998. Di tahun 1998 terjadi krisis finansial Asia yang menyebabkan ekonomi Indonesia melemah (Wikipedia, 2013). Hal ini memperbesar ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan pimpinan Soeharto. Hal inilah yang membuat mahasiswa dari berbagai organ aksi mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran. Agus sendiri, sebagai aktivis politik, sosial, dan budaya dari kelompok Diskusi Lingkar, menyikapi masalah tersebut dengan mengkritik penerapan demokrasi yang belum benar. Demokrasi yang ditetapkan di tahun 1998 adalah demokrasi Pancasila. Sayangnya, muncul kesan bahwa demokrasi ini tercipta hanya untuk menjaga citra “negara demokrasi”. Hal ini terbukti dari praktik demokrasi diktatorial yang masih diterapkan dan digencarkan. Hingga muncullah krisis moneter yang memperburuk kondisi keuangan masyarakat Indonesia. Setiap baris puisi yang ia tulis merupakan pemberontakannya terhadap praktik demokrasi di tahun 1998 kepada pemerintah.
Kalian harus demokratis.
Baik, tapi jauhkan tinju yang kau kepalkan itu dari pelipisku
bukankah engkau tahu
Tutup mulut!
Soal tinjuku mau kukepalkan,
kusimpan di saku atau kutonjokkan ke hidungmu,
tentu sepenuhnya terserah padaku.
Kekuatan pemberontakan Agus dapat dirasakan pada kata-kata penegasan dan perintah seperti harus, tutup mulut, kukepalkan, kutonjokkan ke hidungmu, terserah padaku. Agus berani menuntut pemerintah (kalian) untuk berdemokratis, walaupun ia tahu bahwa ia bisa mendapatkan sanksi tinju (dipukul atau dibunuh), ia tetap berjuang melawan pemerintah. Memang, karena diktaktorship, siapapun yang melawan Presiden akan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas seperti dihilangkan, dipukul, dipenjara, dan lain sebagainya. Namun, hal itu tidak menjadi kendala bagi Agus. Bahkan, ia juga berani untuk mengirim balik tinju itu kepada pemerintah. Sikap ini menunjukkan bahwa Agus, dan mungkin demonstran lainnya, sudah mencapai titik puncak emosi. Mereka siap untuk melawan juga. Dari baris pertama ini hingga baris ketujuh dapat dirasakan sikap Agus yang tegas dan tidak takut untuk melawan pemerintah.
Bagaimana dengan baris-baris berikutnya?
Pokoknya kamu harus demokratis.
Lagipula kita tidak sedang bicara soal aku,
Tapi soal kamu yaitu kamu harus demokratis!
Pemberontakan Agus terhadap pemerintah semakin ditegaskan di baris kedelapan hingga kesepuluh. Penggunaan kata kamu yang ditujukan kepada pemerintahan menjadi simbol bahwa Agus tidak takut untuk memberi peringatan kepada pemerintah. Ditambah pemilihan kata harus yang lebih berarti pemaksaan atau penuntutan. Penggunaan frasa harus demokratis diulang dua kali pada baris kedepalan dan kesepuluh. Memang tujuan utama Agus dari puisi ini adalah menuntut pemerintah untuk melakukan demokrasi yang benar. Sikap tegas dan keras Agus juga ditunjukkan pada baris-baris berikutnya
Tentu saja
saya setuju, bukankah selama ini saya telah mencoba.
Sudahlah!
Kami tak mau dengar apa alasannya
Tak perlu berkilah dan buang waktu.
Aku perintahkan kamu untuk demokratis, habis perkara!
Pada baris ketigabelas hingga keenambelas, Agus mulai mengungkapkan latar belakang mengapa ia memaksa pemerintah untuk melakukan sikap demokratis yang benar. Demokrasi yang benar, bila dilaksanakan dengan baik, dapat menyelesaikan kasus (perkara) yang sedang terjadi. Kasus yang sedang terjadi saat itu adalah krisis moneter yang menyengsarakan masyarakat, dimana nilai mata uang sangat tinggi sehingga yang kaya menjadi lebih kaya dan yang miskin menjadi lebih miskin. Ia menuliskan gagasannya secara lantang dan tegas, sehingga menimbulkan kesan yang berani, tidak takut. Di baris-baris berikutnya, Agus menggunakan diksi yang lebih berani dan lebih tegas untuk mengungkapkan gagasannya.
Ingat gerombolan demokrasi yang kami galang akan melindasmu habis.
Jadi jangan macam-macam
Yang penting kamu harus demokratis
Awas kalau tidak!
Keberanian Agus untuk melakukan pemberontakan akan menjadi lebih liar, seperti yang ia tulis pada baris ketujuhbelas. Gerombolan demokrasi yang kami galang merupakan ungkapan dari mahasiswa yang berbondong-bondong melakukan demo demi menuntut adanya penegakan demokrasi yang benar dari pemerintah. Bahkan mungkin tidak hanya mahasiswa saja, melain demonstran lain yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat. Sekali lagi, Agus menekankan kata “demokratis” untuk pemerintah dengan mengulang frasa kamu harus demokratis. Pengulangan frasa kamu harus demokratis itu sebenarnya membuat tanda tanya besar. Bagaimana demokrasi yang ideal menurut Agus sendiri?
            Tentu saja demokrasi yang ideal adalah demokrasi yang sesuai dengan sistemnya, yaitu memberikan kebebasan berpendapat bagi rakyat. Dengan begitu, kekuasaan absolut satu pihak melalui tirani, kediktatoran pemerintahan otoriter lainnya dapat dihindari. Namun, praktiknya di masa kepemimpinan Soeharto, demokrasi itu tidak terjadi. Malah demokrasi hanya menjadi formalitas dan tidak diterapkan dengan baik. Otoriter dan diktaktor masih menjadi identitas utama dalam negara Indonesia waktu itu. Agus, menilai bahwa demokrasi yang dilakukan Indonesia belum terlaksana. Dalam puisi Demokrasi Dunia Ketiga ini, ia menyindir habis-habisan pemerintah yang belum bisa berdemokrasi. Bukankah hal yang memalukan bagi negara, melihat seorang aktivis dan budayawan yang berani menggunakan kata kamu menunjuk kepada pemerintahan atau pejabat negara (Presiden) untuk melakukan demokrasi yang benar? Bukankah hal yang memalukan bagi negara bila rakyatnya sendiri berani untuk mengancam dan melawan pemimpinnya sendiri? Semua itu telah ditulis secara liar oleh Agus R. Sarjono dalam puisi ini. Ia, sebagai aktivis dan salah satu saksi kasus Orde Baru di tahun 1998, menuliskan betapa liar dan beraninya mahasiswa di tahun itu.  Hal ini juga menandakan bahwa memang pemerintah di tahun itu belum bisa demokratis. Mereka tidak bisa memahami dan menerapkan definisi demokrasi dengan baik.
            Agus menuliskan puisi Demokrasi Dunia Ketiga dengan kata-kata yang  tegas dan lugas seperti kamu, tutup mulut!, tinjuku, kutonjokkan, harus, sudahlah!, perintahkan, gerombolan demokrasi, melindasmu, dan awas muncul sebagai kata-kata penegasan. Agus sendiri menggunakan kata-kata yang tidak sepenuhnya konotatif. Artinya, ia tidak ingin berbasa-basi dalam menyampaikan gagasannya. Kata-kata tegas dan tebal lebih diutamakan untuk menunjukkan kemarahan kepada pemerintahan.
Puisi ini memang tidak panjang, tidak menggunakan kata-kata konotatif, namun Agus mampu membungkus “kemarahannya” dengan menunjukkan sisi liar, garang, berani, dan tegas. Sehingga menafsirkan kesan bahwa pemberontakan di tahun 1998 tidak main-main. Selain itu, kritikan tajam diberikan kepada sistem demokrasi Indonesia yang jelek. Agus tidak henti-hentinya menulis kamu harus demokratis untuk pemerintah di puisinya ini. Frasa kamu harus demokratis ini menunjukkan bahwa Agus, aktivis politik, sosial, dan budaya, benar-benar liar dalam mengungkapkan gagasan dan pemikirannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar