Mengenai Saya

Foto saya
Perempuan kelahiran Kota Malang yang terus belajar, mencoba, lalu berkreasi
Hai! Selamat datang dan selamat menikmati sajian tulisan-tulisan yang semoga bermanfaat ini. Kotak saran dan kritik sangat terbuka, jadi jangan sungkan-sungkan untuk memberikan komentar. Jangan lupa menuliskan sumbernya ya jika mau merujuk tulisan-tulisan di blog ini. Have a nice surf :)

Senin, 22 April 2013

TOKOH IBU DAN SISI LAINNYA DALAM SUDUT PANDANG PROSA “PADA SUATU HARI, ADA IBU DAN RADIAN”


Oleh: Silka Yuanti Draditaswari
Mahasiswa Sastra Indonesia
Universitas Negeri Malang



Aku melayang. Mungkin tertidur. Tanpa mimpi, hanya gelap–dan terbangun karena kesunyian, sangat aneh untuk subuh yang biasanya riuh. Tak ada azan. Tak ada kokok ayam atau saling sahut teriakan penjual sayur dan radio tukang susu. Tempat Radian kosong, tapi masih hangat. Ia belum lama bangun. Aku tertatih keluar kamar dan mendapati anak itu di depan pintu kamar mandi yang separuh terbuka. Ia berdiri, terlalu kaku. Seperti sebuah gerakan yang tertahan di udara. Sinar yang sayu menyapu wajah kecilnya.

Kutipan di atas merupakan penggalan cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian. Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian merupakan buah karya dari Arvianti Armand. Cerpen ini sendiri diterbitkan pertama kali di koran Kompas Minggu. Arvianti Armand merupakan nama baru dalam dunia sastra ketika ia menerbitkan cerpennya ini. Walaupun begitu, cerpen ini terpilih sebagai cerpen terbaik, yang pada akhirnya dibukukan dalam Antologi Cerpen Kompas Pilihan Tahun 2009. Cerpen ini mengisahkan tragedi kekerasan yang dialami seorang Ibu karena suaminya, dimana anaknya yang bernama Radian menjadi saksi mata. Memang, tidak heran jika cerpen ini terpilih menjadi cerpen terbaik kompas tahun 2009. Cerpen ini memiliki berbagai macam keunikan dalam penceritaannya. Salah satu keunikan itu terdapat pada unsur sudut pandangnya. Sudut pandang yang digunakan terdapat dua, yaitu sudut pandang pertama (tokoh Ibu) dan sudut pandang ketiga (penulis).
Apa definisi dari sudut pandang itu sendiri? Sudut pandang merupakan salah satu unsur intrinsik selain tema, latar, pesan, penokohan, alur yang membuat cerpen menjadi utuh. Sudut pandang merupakan cara pandang pengarang yang bercerita dengan menempatkan pengarang sebagai orang pertama, orang kedua, orang ketiga, atau bahkan orang yang ada di luar cerpen itu sendiri (Prabowo, 2011). Unsur ini tidak bisa dianggap remeh karena pemilihan sudut pandang juga tidak hanya akan mempengaruhi penyajian cerita, tetapi juga mempengaruhi alur cerita.
Menurut Friedman  sendiri (Prabowo, 2011), sudut pandang secara garis besar terdapat dua macam, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga. Dalam sudut pandang orang pertama, pengarang menempatkan dirinya sebagai tokoh di dalam cerita yang menjadi pelaku utama. Melalui tokoh “aku” inilah pengarang mengisahkan peristiwa atau tindakan dengan kesadaran dirinya sendiri. Tokoh “aku” menjadi narator sekaligus pusat penceritaan. Sedangkan dalam sudut pandang orang ketiga, pengarang menempatkan dirinya sebagai narator yang berada di luar cerita, atau tidak terlibat dalam cerita. Dalam sudut pandang ini, narator menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebut namanya atau kata gantinya “dia” atau “ia”.
Sebenarnya, bagaimana keunikan sudut pandang cerpen Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian ini? Berikut akan saya kutipkan lagi satu penggalan cerpen Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian.
Pisau itu jatuh terlepas dari genggaman. Perempuan itu jatuh terduduk di lantai dapur. Tenaga telah dikuras keluar. Habis. Air mata telah dikuras keluar. Habis. Kini ia terlongong kosong. Anak lelaki itu mendekat, lalu duduk merapat padanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu perempuan itu. Ibu, bisiknya.
Kalau kita mati, kita pergi ke mana? Aku mengangkat bahu. Tak tahu. Radian kembali menekuri gambarnya. Apakah kamu mencintai ayah? Aku mengangkat bahu lagi. Tak tahu. Yang kutahu, aku mencintaimu. Radian tersenyum tanpa mengangkat kepala. Apakah aku mencintainya? Aku tidak ingat.
Ketika membaca penggalan cerpen di atas, pembaca secara tidak sadar dibawa penulis untuk berpindah sudut pandang cerita. Pada kalimat Pisau itu jatuh terlepas dari genggaman hingga  kalimat Ia menyandarkan kepalanya di bahu perempuan itu, penulis menggunakan sudut pandang ketiga. Sudut pandang ketiga ditunjukkan pada penggunaan kata perempuan itu. Namun, pada paragraf berikutnya yang dibuka dengan kalimat Kalau kita mati, kita pergi ke mana? Aku mengangkat bahu sudut pandang cerita berubah menjadi sudut pandang pertama. Sudut pandang pertama itu ditunjukkan pada penggunaan kata aku.
Berikut contoh lain dari penggunaan sudut pandang yang berubah-ubah ini.
...
Jendela kaca memantulkan gambar-gambar suram itu. Perempuan ringkih dan anak rapuh. Anak itu masuk ke dalam kamar dan kembali dengan sepotong handuk. Perlahan ia menggeret kursi untuk ibunya. Dengan lembut, diusapnya luka di wajah perempuan itu.
Aku berdiri dalam sudut gelap, menyirami kebencian dengan kemarahan. Aku bisa merasakan benihnya mengakar. Cabang-cabangnya yang kuat mencari jalan keluar lewat tiap pembuluh darah. Semakin kuat. Tidak, aku tak sanggup menelannya.
...
Pada paragraf yang dimulai dengan kata Jendela tersebut, penulis menggunakan sudut pandang ketiga dalam penceritaannya. Sudut pandang ketiga itu ditunjukkan pada penggunaan kata perempuan itu. Sedangkan, pada paragraf berikutnya yang dimulai dengan kata Aku, penulis berganti penggunaan sudut pandang menjadi sudut pandang pertama. Penulis menggunakan kata aku sebagai sudut pandang pertama dalam penceritaannya.
Begitulah penulisan sudut pandang dalam cerita Pada Suatu Hari Ada Ibu dan Radian ini, yaitu berubah-ubah. Perubahan sudut pandang ini terlihat mencolok karena penggunaan kata aku dan perempuan itu yang saling bergantian sebagai sudut pandang cerita. Jelaslah bahwa penggunaan dua sudut pandang ini mempengaruhi penyajian cerita. Namun, perubahan sudut pandang ini tidak mempengaruhi alur cerita. Mengapa demikian? Karena dalam cerita ini, sudut pandang ketiga (perempuan itu) adalah sudut pandang dari aku, yaitu tokoh Ibu. Sudut pandang ketiga itu bukanlah sudut pandang penulis. Pernyataan ini terkuak dari penggalan cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian di bawah ini
...
Malam terasa berat, tapi sinar bulan cukup untuk meremangkan ruang. Perempuan dalam cermin itu diam, meski tahun-tahun yang tertoreh di wajahnya, di tubuhnya, bertutur. Aku tidak mengenalinya. Wajah itu bukan wajahku. Mata itu bukan mataku. Tubuh itu terlalu kering untukku. Ia sembab dan biru. Mungkin lelah. Atau putus asa. Tapi jelas ia marah. Kemarahan membayang seperti sayap-sayap hitam seekor gagak, menyambar dan mencakar-cakar wajah itu, meninggalkan kerut-kerut yang dalam.
...
Kalimat yang menunjukkan bahwa sudut pandang ketiga perempuan itu merupakan sudut pandang yang sama dengan Ibu dan bukanlah sudut pandang penulis adalah Perempuan dalam cermin itu diam, meski tahun-tahun yang tertoreh di wajahnya, di tubuhnya, bertutur. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat-kalimat berikut, Aku tidak mengenalinya. Wajah itu bukan wajahku. Mata itu bukan mataku. Tubuh itu terlalu kering untukku. Ia sembab dan biru.
Dari penggalan di atas, dapat diketahui bahwa sudut pandang ketiga perempuan itu bukanlah sudut pandang penulis yang berada di luar cerita atau tidak terlibat dalam cerita. Sudut pandang ketiga tersebut merupakan sisi lain dari tokoh Ibu. Yang dimaksud sisi lainnya adalah bayangan tokoh Ibu dalam cermin. Ketika tokoh Ibu melihat bayangannya sendiri, ia merasa benci dan tidak suka dengan bayangan itu. Sehingga, ia memberi julukan perempuan itu kepada bayangannya sendiri. Frasa perempuan itu-lah yang dijadikan sudut pandang ketiga dalam cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian ini.
Secara teori, frasa perempuan itu sah-sah saja menjadi frasa sudut pandang ketiga, walaupun makna dari “perempuan itu” adalah sisi lain dari tokoh Ibu. Hal ini disebabkan frasa tersebut menjadi subjek yang menceritakan peristiwa demi peristiwa dalam cerpen. Selain itu, tidak digunakannya kata aku sebagai subjek pencerita sudah jelas menunjukkan bahwa penulis menggunakan jenis sudut pandang lain dalam cerpen ini. Jenis sudut pandang lain itu tidak lain adalah sudut pandang ketiga. Sudut pandang ketiga dalam cerpen ini adalah sudut pandang ketiga terbatas. Artinya pengarang melukiskan apa yang dilihat, didengar, dialami, dipikirkan, dan dirasakan oleh satu tokoh, yaitu Ibu. Namun, apa sebenarnya pengaruh penggunaan sudut pandang macam itu?
Penggunaan model sudut pandang dalam cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian ini menjadi kekuatan tersendiri, karena sudut pandang ini dapat mendukung atau memperkuat karakter tokoh Ibu. Tokoh Ibu dalam cerpen ini dijelaskan sebagai Ibu yang mengalami kompleksitas emosi. Kompleksitas ini tumbuh dari kekerasan rumah tangga yang dialami, masa lalu yang tidak bahagia, dan kesedihan serta kekhawatiran terhadap Radian juga gambar-gambar buatannya. Selain faktor dari luar, tokoh Ibu juga mengalami kompleksitas emosi dari diri sendiri. Dalam cerpen ini, dijelaskan bahwa tokoh Ibu sendiri sebenarnya kecewa dengan dirinya sendiri yang selalu menjadi korban kekerasan. Kekecawaan itulah yang ia ungkapkan melalui sisi lain, yaitu perempuan itu. Secara tidak langsung, perubahan sudut pandang itu dapat menggambarkan emosi tokoh Ibu yang naik turun sehingga pemaknaan karakter serta konfliknya dapat terasa lebih mendalam. Berikut penggalan cerpen yang menggambarkan kompleksitas emosi tersebut.
...
Perempuan itu menunjukkan gambar tadi pada suaminya saat makan malam. Kepala sekolah menunjukkan gambar itu padanya tadi pagi. Gambar Radian. Lelaki itu tak berkata sepatah pun. Ia hanya menggebrak meja, mengambil piring, dan melemparkannya. Tepat ke muka. Ia tercekat. Rasa sakit nyaris meledakkan kepala. Ia menelannya. Kemarahan menyergap seketika. Ia menelannya. Suara piring yang pecah memekakkan telinga. Anak lelakinya keluar dari kamar dan terdiam di pintu, tidak lagi heran ketika ayahnya pergi.
Jendela kaca memantulkan gambar-gambar suram itu. Perempuan ringkih dan anak rapuh. Anak itu masuk ke dalam kamar dan kembali dengan sepotong handuk. Perlahan ia menggeret kursi untuk ibunya. Dengan lembut, diusapnya luka di wajah perempuan itu.
Aku berdiri dalam sudut gelap, menyirami kebencian dengan kemarahan. Aku bisa merasakan benihnya mengakar. Cabang-cabangnya yang kuat mencari jalan keluar lewat tiap pembuluh darah. Semakin kuat. Tidak, aku tak sanggup menelannya.
Aku tidak lapar, Ibu. Anak lelaki itu ketakutan. Tapi perempuan itu tetap berjalan ke dapur. Ia tidak membuka lemari pendingin, tidak meletakkan panci di atas api. Ia cuma mengambil pisau dan berdiri di depan meja. Begitu saja. Lama sekali. Matanya menatap ke depan. Kosong. Kemudian tangannya mulai bergerak, dengan gerakan memotong-motong sesuatu yang tak terlihat. Sesuatu yang mungkin hanya ada di kepalanya. Pelan awalnya. Lalu makin cepat. Keringat turun berbulir-bulir dari dahinya. Air turun berbulir-bulir dari matanya. Anak lelaki itu tak berani mendekat. Ia cuma menatap punggung ibunya yang berguncang keras. Sesuatu dari dalam telah merusak perempuan itu, sedikit demi sedikit. Ia tak mengenalinya lagi. Aku tak mengenalinya lagi.
...
Memang pada umumnya, cerpen menggunakan satu sudut pandang dengan asumsi agar tidak membingungkan cerita itu sendiri. Namun, tidak pada cerpen Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian ini. Justru unsur sudut pandang dimanfaatkan, bahkan dibelokkan sedikit, untuk mendukung unsur-unsur lainnya dalam cerpen. Hasilnya, pemanfaatan dan pembelokan itu dapat menciptakan serta mendukung kekuatan tema cerita, tokoh juga perwatakan tokoh Ibu. Toh pemanfaatan dan pembelokan itu merupakan hal yang lumrah. Selama tidak keluar terlalu jauh dari teori dasar dan bertujuan untuk menguatkan keutuhan cerpen, tidak ada salahnya untuk bermain-main dan berkreatifitas setinggi mungkin untuk mengotak-atik unsur-unsur cerpen yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar