Mengenai Saya

Foto Saya
Aku ingin berusaha terus dan lebih. Aku ingin jadi orang yang berguna dan bermanfaat. Aku juga gak mau buang-buang waktu ato sia-siain hidup yang penuh berkah ini :-)
Hai! Selamat datang dan selamat menikmati sajian tulisan-tulisan yang semoga bermanfaat ini. Kotak saran dan kritik sangat terbuka, jadi jangan sungkan-sungkan untuk memberikan komentar. Jangan lupa menuliskan sumbernya ya jika mau merujuk tulisan-tulisan di blog ini. Have a nice surf :)

Kamis, 22 Maret 2012

TEORI BELAJAR SOSIAL

Oleh: Silka Yuanti Draditaswari
Mahasiswa Sastra Indonesia
Universitas Negeri Malang

            Teori belajar social (social learning theory) ialah pandangan para pakar psikologi yang menekankan perilaku, lingkungan, dan kognisi sebagai faktor kunci dalam perkembangan. Psikolog Amerika Aibert Bandura yakin bahwa manusia belajar melalui belajar mengamati, yaitu mengamati apa yang dilakukan oleh orang lain kemudian mengadopsi perilaku orang tesebut dalam diri sendiri. Misalnya, seorang anak laki-laki kecil mengamati ledakan amarah dan sikap permusuhan ayahnya yang agresif dengan orang lain. Ketika diamati bersama dengan teman-teman sebayanya, gaya berinteraksi anak laki-laki tadi sangat agresif, memperlihatkan karakteristik yang sama seperti perilaku ayahnya. Para teoritis belajar sosial meyakini bahwa manusia memerlukan beragam perilaku, pemikiran dan perasaan semacam itu melalui pengamatan perilaku orang lain. Pengamatan-pengamatan ini membentuk suatu bagian perkembangan manusia yang penting.  
Model belajar dan perkembangan terbaru Bandura meliputi perilaku, pribadi/ orang lain, dan lingkungan. Faktor-faktor perilaku, kognitif dan pribadi lain, serta pengaruh lingkungan dapat mengubah proses pemikiran orang lain dan sekitarnya. Model belajar ini dicontohkan pada mahasiswa. Ketika mahasiswa rajin belajar dan memperoleh nilai yang baik, perilakunya menghasilkan pemikiran yang positif tentang kemampuannya. Sebagai bagian dari usahanya untuk memperoleh nilai yang baik, ia merencanakan dan mengembangkan sejumlah strategi untuk membuat pekerjaannya lebih efisien. Dengan cara ini, perilakunya mempengaruhi pemikirannya dan pemikirannya mempengerahui perilakunya, pada awal semester, sekolahnya melakukan suatu upaya khusus untuk melibatkan mahasiswa dalam suatu program keterampilan belajar. Ia memutuskan untuk bergabung. Keberhasilannya, bersama dengan mahasiswa lain yang mengikuti program itu, menyebabkan sekolahnya memperluas program pada semester berikutnya. Dengan cara ini, lingkungan mempengaruhi perilaku, dan perilaku mengubah lingkungan. Keberhasilan program memacu harapan bahwa jenis program ini dapat berhasil di sekolah lain. Dengan cara ini, pemikiran mengubah lingkungan dan lingkungan mengubah pemikiran. Harapan merupakan variable yang penting dalam model Bandura.
Teori belajar sosial memiliki unsur-unsur dalam proses peniruannya. Unsur-unsur tersebut adalah
1.      Perhatian
Subjek harus memperhatikan tingkah laku model untuk dapat mempelajarinya.
2.      Mengingat
Subjek yang memperhatikan harus merekam peristiwa itu dalam sistem ingatannya.
3.      Reproduksi gerak
Subjek menunjukkan kemampuannya atau menghasilkan apa yang disimpan dalam bentuk tingkah laku.
4.      Motivasi
Motivasi berfungsi sebagai penggerak individu untuk terus melakukan sesuatu.
Seperti pendekatan behavioral Skinner, pendekatan belajar sosial menekankan pentingnya penelitian empiris dalam  mempelajari perkembangan anak-anak. Penelitian ini berfokus pada proses yang menjelaskan perkembangan anak-anak, faktor social dan kognitif yang mempengaruhi anak-anak. Para ahli perkembangan anak meyakini bahwa pendekatan “lakukan seperti yang kukatakan, bukan seperti yang kulakukan” oleh seorang orang tua bukan strategi yang bijaksana. Anak-anak yang melihat orang tua mereka bersembahyang secara teratur dan mendengar mereka berbicara tentang betapa bermoral mereka, tetapi kemudian mengamati mereka berbohong atas pajak penghasilan mereka, tidak pernah memberi uang amal, dan menolak permohonan untuk menolong orang lain akan lebih meniru tindakan orang tua mereka daripada kata-kata mereka. Oleh karena itu, dalam kasus anak meniru orang tua, ungkapan berikut sering mengandung kebenaran: Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Seberapa banyak anak-anak belajar dengan mengamati orang tua juga dipengaruhi oleh konsekuensi apa yang dilihat anak diperoleh orang tua sebagai hasil dari perilaku mereka. Bila model orang tua memperoleh hadiah atas perilakunya maka anak-anak lebih cenderung tidak menerima hadiah atau justru dihukum atas perilakunya. Konsekuensi terhadap model dapat bersifat eksternal (seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang positif kepada orang tua setelah orang tua melibatkan diri dalam suatu tindakan tertentu) maupun tindakan.
Dalam aplikasinya, banyak yang secara salah menyamakan belajar observasional
dengan belajar melalui imitasi. Teori pembelajaran sosial ini sangat sesuai jika diklasifikasikan dalam teori behavioristik, karena teknik meniru tingkah laku tersebut adakalanya memerlukan pengulangan dalam mendalami sesuatu yang ditiru. Namun, kelebihan dari teori belajar sosial ini adalah menekankan bahwa lingkungan dan perilaku seseorang dihubungkan melalui sistem kognitif tersebut. Bandura memandang tingkah laku manusia sebagai akibat reaksi yang timbul antara lingkungan dengan kognitif manusia itu sendiri. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar